Apa itu NLP (3)
Maksudnya?
Dulu kita sering mendengar istilah “success is the mind game”, sukses adalah permainan pikiran. Maksudnya it doesn’t matter with RE, yang penting RI-nya. Efektif tidak orang itu memahami RE? Ini basic NLP. Kalau Anda mau mengubah dunia apa yang dilakukan paling dulu? RI-nya to. Begitu mengubah RI, cara pandang Anda terhadap dunia berubah.
Kebanyakan yang sakit jiwa adalah orang-orang yang selalu mengira RI-nya adalah RE. Orang sehat seperti kita kadang sadar kadang enggak. Kalau orang gila bener-bener RI dikira RE. Wong edan RI dikira RE. Kalau orang sukses adalah orang yang bisa memilih untuk membuat (menciptakan pilihan) RI secara sadar terhadap suatu RE.
Core NLP adalah menguasai berbagai tools mengenai RI. Intinya nguplek-uplek RI, milik sendiri ataupun punya orang lain. Makanya di buku NLP Vol 1, Bandler menyebut bahwa NLP adalah the study of subjective experience atau NLP adalah kajian tentang pengalaman subjektif atau RI.
Jadi model NLP itu intinya Anda belajar menguasai pengalaman subjektif sehingga menjadi efektif dalam melihat dunia. Pikiran juga lebih efektif karena Anda menjadi master atau tuan atasnya. Modelling itu meniru, mengambil esensi excellency atau keunggulan orang atau diri sendiri agar bisa direplikasi di waktu dan tempat berbeda.
Contoh kongkritnya?
Misalnya, dalam hidup Anda pernah sangat percaya diri. Terus Anda diminta presentasi di depan BOD nggak pede. Saya (dengan menggunakan NLP) bisa membantu mengambil pede Anda saat sangat percaya diri itu, saya bawa dan di-install di waktu lain di saat mau presentasi itu Anda bisa mengakses lagi pede tadi. Itu me-modelling diri sendiri.
Memodel orang lain juga bisa. Kita bisa meniru Walt Disney, orang lain yang masih hidup. Bahkan pionir NLP Robert Dilts dalam artikelnya di www.NLPU.com menulis cara untuk dapat memodel keunggulan Yesus dalam hal wisdom (buka http://www.nlpu.com/Articles/article5.htm).
Esensi modelling adalah menduplikasi bakat dengan berbagai tools. Tools dalam NLP banyak sekali, salah satunya adalah hipnotis. Dalam kaitan ini NLP tidak mengakui adanya bakat, yang supranatural sekali pun. Bakat adalah strategi atau urutan proses mental yang efektif dan bisa ditiru. Orang bisa punya bakat, yang seolah-olah turunan, karena dibiasakan atau terbiasa melihat bapaknya atau entah siapa. Secara unconscious hal itu menularkan pola pemikiran yang efektif.
Tools atau perkakas yang lain?
Perkakas yang lain antara lain klarifikasi, anchor, reframing dan metafor. Ada ratusan tools, teknik atau pola-pola yang siap pakai. Nah kebanyakan orang di dunia itu cuma belajar tools tapi mengira sudah mengetahui NLP. Diajari teknik presentasi dengan NLP, setelah itu mengklaim saya sudah tahu NLP.
Sedihnya kalau mereka merasa gagal, dibilang NLP nggak jalan. Ibaratnya orang yang baru membaca buku psikologi praktis terus merasa sudah tahu psikologi, kalau gagal dia bilang “…alah psikologi nggak jalan kok.” Padahal yang diketahui sebenarnya hanya satu teknik di psikologi.
Tools ini hanya hasil akhir paling praktis yang paling gampang dilihat. Memang ini penting, tapi kalau itu saja yang dilihat terus menyimpulkan “NLP tidak jalan” itu kan sama saja bohong. Jika diibaratkan di bidang teknik, maka orang yang seperti itu hanya jadi semacam tukang saja.
Sedangkan bila menguasai ilmu NLP kita bisa jadi orang yang mampu menciptakan semua perkakas yang akan dipergunakan oleh para tukang. Kalau hanya belajar tools, kita hanya jadi tukang batu atau tukang kayu. Singkatnya belajar NLP adalah bahkan belajar menciptakan perkakas baru. Perbandingannya diberi pancing dengan diberi ikan.
Esensi yang terpenting itu saja dan selebihnya merupakan sejumlah terminologi dan teknik yang Anda harus dengan cepat menguasai. Saat belajar tools NLP, orang juga juga sering bingung karena banyaknya istilah, seperti di disiplin lain, yang satu sama lain kadang artinya bertabrakan atau malah tak berhubungan sama sekali.
Misalnya anchor, yang artinya jangkar, dipakai sebagai istilah lain untuk picu. Istilah “through time” dalam Time-Line Therapy sering membingungkan jika disejajarkan dengan istilah “in time”, istilah “submodality” dalam NLP sering diperbandingkan dengan “meta-modality” dalam Neuro Semantic dan lain-lain.
bersambung...
Dulu kita sering mendengar istilah “success is the mind game”, sukses adalah permainan pikiran. Maksudnya it doesn’t matter with RE, yang penting RI-nya. Efektif tidak orang itu memahami RE? Ini basic NLP. Kalau Anda mau mengubah dunia apa yang dilakukan paling dulu? RI-nya to. Begitu mengubah RI, cara pandang Anda terhadap dunia berubah.
Kebanyakan yang sakit jiwa adalah orang-orang yang selalu mengira RI-nya adalah RE. Orang sehat seperti kita kadang sadar kadang enggak. Kalau orang gila bener-bener RI dikira RE. Wong edan RI dikira RE. Kalau orang sukses adalah orang yang bisa memilih untuk membuat (menciptakan pilihan) RI secara sadar terhadap suatu RE.
Core NLP adalah menguasai berbagai tools mengenai RI. Intinya nguplek-uplek RI, milik sendiri ataupun punya orang lain. Makanya di buku NLP Vol 1, Bandler menyebut bahwa NLP adalah the study of subjective experience atau NLP adalah kajian tentang pengalaman subjektif atau RI.
Jadi model NLP itu intinya Anda belajar menguasai pengalaman subjektif sehingga menjadi efektif dalam melihat dunia. Pikiran juga lebih efektif karena Anda menjadi master atau tuan atasnya. Modelling itu meniru, mengambil esensi excellency atau keunggulan orang atau diri sendiri agar bisa direplikasi di waktu dan tempat berbeda.
Contoh kongkritnya?
Misalnya, dalam hidup Anda pernah sangat percaya diri. Terus Anda diminta presentasi di depan BOD nggak pede. Saya (dengan menggunakan NLP) bisa membantu mengambil pede Anda saat sangat percaya diri itu, saya bawa dan di-install di waktu lain di saat mau presentasi itu Anda bisa mengakses lagi pede tadi. Itu me-modelling diri sendiri.
Memodel orang lain juga bisa. Kita bisa meniru Walt Disney, orang lain yang masih hidup. Bahkan pionir NLP Robert Dilts dalam artikelnya di www.NLPU.com menulis cara untuk dapat memodel keunggulan Yesus dalam hal wisdom (buka http://www.nlpu.com/Articles/article5.htm).
Esensi modelling adalah menduplikasi bakat dengan berbagai tools. Tools dalam NLP banyak sekali, salah satunya adalah hipnotis. Dalam kaitan ini NLP tidak mengakui adanya bakat, yang supranatural sekali pun. Bakat adalah strategi atau urutan proses mental yang efektif dan bisa ditiru. Orang bisa punya bakat, yang seolah-olah turunan, karena dibiasakan atau terbiasa melihat bapaknya atau entah siapa. Secara unconscious hal itu menularkan pola pemikiran yang efektif.
Tools atau perkakas yang lain?
Perkakas yang lain antara lain klarifikasi, anchor, reframing dan metafor. Ada ratusan tools, teknik atau pola-pola yang siap pakai. Nah kebanyakan orang di dunia itu cuma belajar tools tapi mengira sudah mengetahui NLP. Diajari teknik presentasi dengan NLP, setelah itu mengklaim saya sudah tahu NLP.
Sedihnya kalau mereka merasa gagal, dibilang NLP nggak jalan. Ibaratnya orang yang baru membaca buku psikologi praktis terus merasa sudah tahu psikologi, kalau gagal dia bilang “…alah psikologi nggak jalan kok.” Padahal yang diketahui sebenarnya hanya satu teknik di psikologi.
Tools ini hanya hasil akhir paling praktis yang paling gampang dilihat. Memang ini penting, tapi kalau itu saja yang dilihat terus menyimpulkan “NLP tidak jalan” itu kan sama saja bohong. Jika diibaratkan di bidang teknik, maka orang yang seperti itu hanya jadi semacam tukang saja.
Sedangkan bila menguasai ilmu NLP kita bisa jadi orang yang mampu menciptakan semua perkakas yang akan dipergunakan oleh para tukang. Kalau hanya belajar tools, kita hanya jadi tukang batu atau tukang kayu. Singkatnya belajar NLP adalah bahkan belajar menciptakan perkakas baru. Perbandingannya diberi pancing dengan diberi ikan.
Esensi yang terpenting itu saja dan selebihnya merupakan sejumlah terminologi dan teknik yang Anda harus dengan cepat menguasai. Saat belajar tools NLP, orang juga juga sering bingung karena banyaknya istilah, seperti di disiplin lain, yang satu sama lain kadang artinya bertabrakan atau malah tak berhubungan sama sekali.
Misalnya anchor, yang artinya jangkar, dipakai sebagai istilah lain untuk picu. Istilah “through time” dalam Time-Line Therapy sering membingungkan jika disejajarkan dengan istilah “in time”, istilah “submodality” dalam NLP sering diperbandingkan dengan “meta-modality” dalam Neuro Semantic dan lain-lain.
bersambung...



0 Comments:
Post a Comment
<< Home