Sunday, May 07, 2006

Apa itu NLP (2)

Perkembangan NLP dan praktisinya di Indonesia?
Setahuku beberapa orang Indonesia, seperti Tosan Lim, Stevanus dan Agus Sunaryo, adalah lulusan NLPU. Yang merupakan lulusan NAC (Robbins) adalah Tung Desem Waringin dan Ronald. Selain itu ada yang mengusung berbagai aliran seperti Wiwoho, Khrisnamurti dan Leksana.

Sedangkan yang bisa memberikan sertifikasi Neuro Semantic NLP Practitioner di Indonesia adalah Mariani Ng. Saya sendiri menggabungkan NLP dengan berbagai aliran hypnotism secara ekstensif. Ada lagi yang menggabung NLP dengan Mind Power yang tidak secara jelas mengusung aliran yang mana.

Tentu saja masih ada individu lain yang saya tidak terlalu mengenalnya namun juga pelatih NLP. Mereka semua menawarkan program seminar atau pelatihan ke publik berbentuk aplikasi NLP, dan ada yang menangani permintaan dari perusahaan. Secara umum permintaan training NLP ini sedang dan terus meningkat pesat hingga beberapa tahun mendatang.

Bisa dijelaskan lebih lanjut tentang proses dan mekanisme hipnotis dan NLP?
Yang terpenting adalah memahami soal model. Penjelasannya gambar manusia dengan otaknya. Apa pun yang masuk ke lima indera, baik lewat hidung, mata, telinga, lidah, tangan, akan diubah menjadi sinyal listrik (biolistrik) ke sistem syaraf dan dibawa ke otak. Fakta yang ada di luar diri disebut realitas eksternal (RE) yang dalam istilah NLP disebut territory.

Begitu masuk lewat indera, RE diubah menjadi realitas internal (RI) yang dalam psikologi disebut persepsi atau sudut pandang, dll. Contoh handphone (HP) di tangan saya. Saat melihat HP ini yang terlintas pada Anda mungkin kata “jorok” karena keypad-nya sudah jelek. Sedangkan saya berpikir ini HP kesayangan, kuno tapi masih enak dipakai.

RE-nya sama. Tapi bagaimana kita merepresentasikan realita itu dalam pikiran masing-masing berbeda. Itulah RI yang dalam istilah NLP disebut map atau mental map atau peta pikiran. Jadi saat disebut map is not the territory artinya RI bukan RE. Nah ironisnya dunia psikologi diawal perkembangannya (Psikoanalisis, Behaviorisme, dll), gagal memahami hal ini.

Bahwa manusia tidak bereaksi terhadap RE, tapi dia bereaksi terhadap RI-nya sendiri. Baru psikologi mahzab keempatlah yang memahami fenomena ini. Mahzab Behaviorisme gagal di sini. Dan NLP awalnya muncul merupakan reaksi terhadap behaviorisme yang menganggap manusia seolah tak punya daya/pilihan untuk memberikan respons berbeda pada suatu stimulus yang sama.

Contoh lain saya teriak “asu” ke Anda. Realitanya kan cuma ujaran satu kata itu. Tapi begitu masuk pikiran, tergantung Anda mengartikannya. Kalau RI Anda mengatakan Ronny guyon, Anda akan tertawa. Kalau RI Anda mengatakan, ”ke orang lebih tua kok bilang begitu kurang ajar,” Anda akan marah.

Marah tidaknya Anda berarti kan tidak tergantung ujaran “asu” tadi. Tapi tergantung bagaimana Anda memaknai ucapan itu. Nah ketika RE diberikan makna melalui suatu proses tertentu, maka itu kemudian menjadi RI. Jadi map is not the territory, peta bukanlah yang sebenarnya atau RI bukanlah RE. Sedihnya, manusia sering tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya bereaksi (berespon) terhadap RI, tapi mereka mengira reaksi (respon) mereka adalah terhadap RE.

bersambung ...

0 Comments:

Post a Comment

<< Home